Analisis Pertandingan: Chelsea 2–1 Manchester City

Pulisic merayakan gol pertama (Foto: twitter.com/chelseafc)

Gol dari Christian Pulisic dan Willian berhasil mengkapitalisasi kesalahan lawan dan membawa Chelsea mengalahkan City 2–1. Frank Lampard berhasil membalas kekalahan dari Pep Guardiola di pertemuan pertama. Kedisiplinan Chelsea mengontrol ruang di lini tengah dan memanfaatkan momen transisi menyerang menjadi kunci memenangkan pertandingan.

Susunan pemain

Dari kubu tuan rumah, Lampard menurunkan formasi 4–3–3. Mantan kapten Timnas Inggris tersebut melakukan dua perubahan dari sebelas awal ketika menghadapi Aston Villa di pekan sebelumnya. Kepa Arrizabalaga di bawah mistar. Empat bek kembali diisi oleh Cesar Azpilicueta, Andreas Christensen, Antonio Rudiger, dan Marcos Alonso. N’Golo Kante kembali menempati ‘posisi baru’ sebagai pemain No. 6, di belakang Ross Barkley dan Mason Mount. Di lini depan, Pulisic dan Willian mengapit penyerang tunggal, Olivier Giroud.

Minus Stones dan Aguero yang cedera, Pep menurunkan skuat terbaiknya setelah mengistirahatkan beberapa pemain kunci di laga sebelumnya menghadapi Burnley. City turun dengan formasi awal 4–3–3. Ederson sebagai penjaga gawang di belakang empat bek, Kyle Walker, Fernandinho, Aymeric Laporte, dan Benjamin Mendy. Lini tengah diisi oleh Rodri sebagai No. 6 dan duet Ilkay Gundogan dan Kevin De Bruyne sebagai No. 8. Riyad Mahrez dan Raheem Sterling mengisi kedua sisi sayap, menyokong Bernardo Silva yang berperan sebagai false nine.

Kedisiplinan blok rendah Chelsea

Pada pertemuan pertama kedua tim November lalu, Chelsea tampil cukup ekspansif dengan banyak melakukan pressing blok tinggi dan memegang kendali penguasaan bola. Di laga kali ini, Chelsea justru tampil cukup defensif dengan banyak melakukan pressing di blok menengah dan rendah.

Strategi tersebut justru memberikan keunggulan bagi The Blues. Kedisiplinan Kante dkk dalam mengontrol ruang di area sentral berdampak pada tidak berkembangnya permainan lawan.

Dalam fase bertahan (tanpa bola), Chelsea tersusun dalam blok menengah-rendah 4–5–1 atau 4–1–4–1 dengan orientasi pressing yang cenderung bersifat man-oriented.

Dua pemain No. 8, Mount dan Barkley dibantu dua pemain sayap (Willian-Pulisic) yang bermain merapat menutup celah progresi lawan lewat area sentral dan halfspace. Sementara Kante di posisi yang lebih dalam bertanggungjawab terhadap false nine lawan. Akibatnya, duet No. 8 City, De Bruyne dan Gundogan tidak bisa memanfaatkan ruang antarlini seperti biasanya. Keduanya cenderung terisolir dan harus bermain melebar atau turun ke bawah untuk mendapatkan akses terhadap bola.

Rotasi antarpemain juga sulit dilakukan karena orientasi pressing lawan. Pemain Chelsea disiplin melakukan penjagaan sesuai zona masing-masing. Setiap pemain bertanggungjawab atas pemain lawan yang ada di zonanya. Hal tersebut membuat rotasi yang dilakukan City tidak berhasil mengacaukan orientasi penjagaan lawan.

Opsi paling ideal bagi City adalah melakukan serangan lewat sayap. Sterling dan Mahrez kerap mengambil posisi yang melebar sampai ke garis tepi. Upaya tersebut bertujuan untuk merenggangkan backline Chelsea dan menciptakan ruang yang nantinya dimanfaatkan oleh bek atau gelandang yang melakukan underlap.

Akan tetapi kombinasi di area tersebut juga gagal menciptakan peluang bersih bagi City. Mendy beberapa kali berhasil membuat kombinasi dengan Sterling di sisi kiri dan berhasil menciptakan umpan silang, namun eksekusinya tidak membuahkan hasil karena backline Chelsea yang siap dalam mengantisipasi situasi tersebut. Apalagi City tidak memainkan No. 9 murni yang dapat memanfaatkan umpan silang tersebut sejak awal.

Di sisi lain, kedisiplinan Chelsea juga terlihat ketika bertahan di area terluar. Pemain tuan rumah tetap mempertahankan orientasi pressing-nya sehingga terhindar dari situasi kalah jumlah. Chelsea nyaris selalu mengimbangi kombinasi segitiga atau berlian City di area tersebut.

Pola pertahanan tersebut didukung oleh covering yang baik dari gelandang No. 6 (Kante) atau gelandang No. 8 terdekat, terutama ketika bek harus melakukan pressing ke area luar. Cover tersebut mampu mempertahankan keutuhan backline Chelsea dan mencegah timbulnya ruang yang bisa dimanfaatkan lawan.

Chelsea ketika melakukan pressing di area sayap. Pemain terdekat (Azpi, Willian, Barkley) cepat menutup dan menghindari situasi kalah jumlah, sementara Kante melakukan cover terhadap posisi Azpi untuk mempertahankan bentuk backfour.

Keberhasilan Chelsea dalam melakukan blok rendah tersebut dapat terlihat dari minimnya sentuhan bola maupun operan City di area di depan kotak penalti. Data heat map dari Who Scored memperlihatkan dominasi City di nyaris seluruh area tengah, namun gagal memanfaatkan ruang strategis di depan kotak penalti lawan.

Heatmap sentuhan City menunjukkan kesulitan mereka melakukan progresi dari area sentral (via WhoScored)
Operan City menuju 1/3 akhir juga minim dilakukan di area tersebut (via WhoScored)

Inefektivitas struktur serangan City

Penyebab lain kegagalan City dalam membongkar pertahanan lawan adalah inefektivitas struktur penyerangan dalam merespons blok rendah Chelsea. Umumnya, struktur serangan City berbentuk piramida terbalik dalam susunan 1–2–3–5. Struktur tersebut masih terlihat dalam pertandingan melawan Chelsea, tetapi penempatan pemain dalam struktur tersebut justru menghambat progresi dan membuat lawan bisa memanfaatkan transisi.

Di susunan 3 pemain di lini tengah, biasanya City menempatkan 1 gelandang bertahan dan 2 bek sayap yang bermain lebih ke dalam (inverted fullback). Penempatan tersebut membuat gelandang serang dan pemain sayap berada di area yang lebih berbahaya di 1/3 akhir. Sementara itu pemosisian bek sayap di area tengah memudahkan antisipasi terhadap transisi positif lawan karena bek sayap tidak menempuh jarak yang jauh ketika melakukan tracking back.

Dalam struktur City, bek sayap kiri, Mendy dan Zinchenko (pada babak kedua) banyak melakukan overlap di area flank. Sebagai konsekuensi, Sterling sebagai sayap kiri mengokupansi area halfspace kiri, sementara no. 8 terdekat, Gundogan/De Bruyne tampil lebih ke bawah untuk mempertahankan bentuk 1–2–3–5 tersebut.

Overlap bek kiri tersebut sebenarnya membuat Chelsea harus bertahan lebih dalam ketika City menyerang dari sisi kiri, karena winger kanan Chelsea akan banyak turun untuk melakukan pressing. Akan tetapi, pemosisian pemain seperti itu tidak mengakomodasi kelebihan pemain depan dan justru memberikan ruang untuk diekspos lawan.

Pemosisian Sterling di area halfspace membatasi pergerakannya dibandingkan ketika ia bermain di area flank yang memberikan ruang lebih luas. Kreativitas pemain no. 8 juga menjadi terbatas ketika bermain di area yang lebih dalam. Umpan-umpan dan pergerakan berbahaya di 1/3 akhir menjadi lebih minim karena jarak yang jauh dengan kotak penalti lawan.

Pemosisian gelandang di posisi tersebut juga rawan terekspos serangan balik lawan, seperti yang terlihat dalam proses gol kedua Chelsea. Ketika itu, De Bruyne yang mengisi posisi tersebut gagal melakukan umpan karena berhasil diintersep oleh Kante. Gelandang juara dunia tersebut kemudian memberikan bola kepada Willian yang segera memanfaatkan space yang ada di area pertahanan City. Kemampuan tracking back De Bruyne yang kurang baik berhasil dimanfaatkan Willian untuk melakukan serangan balik dan mengirimkan umpan silang yang nantinya berbuah penalti bagi The Blues.

Zinchenko overlap dan meninggalkan ruang. Willian berhasil memanfaatkan kemampuan defensif De Bruyne yang kurang baik

Chelsea keluar dari tekanan: transisi positif dan manipulasi pressing lawan

Meski memiliki penguasaan bola yang minim, Chelsea tetap dapat memberikan ancaman bagi City. Minus penalti, total nilai xG yang dihasilkan Chelsea mencapai 2,8 berbanding dengan total 0,8 yang dimiliki City. Chelsea juga berhasil menciptakan banyak tembakan di area berbahaya.

Data xG Chelsea vs City (via Michael Caley)

Momen transisi menjadi salah satu faktor pendukung Chelsea menciptakan peluang. Inefektivitas struktur City, seperti yang disebutkan sebelumnya, memberikan celah yang bisa dimanfaatkan pemain Chelsea dalam melakukan transisi menyerang. Di sisi lain, kemampuan pemain Chelsea dalam memanfaatkan keunggulan kecepatan juga berperan penting.

Hal tersebut bisa dilihat pada gol pertama yang dicetak Pulisic. Eks pemain Borussia Dortmund tersebut memiliki kemampuan yang baik dalam membaca ruang, sehingga ia tahu kapan harus melakukan sprint dan kapan harus sejenak menahan bola. Terlebih lagi, ia punya kemampuan untuk mengubah kecepatan larinya dengan sangat baik.

Gol Pulisic dan kemampuannya dalam memanfaatkan momen transisi

Ketika bola sapuan pertama kali jatuh di antara Mendy dan Gundogan, Pulisic masih belum melakukan sprint. Akan tetapi, ketika terjadi miskomunikasi operan Mendy kepada Gundogan, Pulisic segera menyadari hal tersebut dan langsung melakukan sprint untuk merebut bola. Ketika sudah menguasai bola, ia dengan cerdik memancing Mendy untuk melakukan tekel, sehingga kemudian ia memanfaatkan ketidakseimbangan bek City tersebut untuk melewatinya dengan sprint dan berhadapan 1v1 dengan Ederson.

Ketika menguasai bola dalam fase menyerang terstruktur, Chelsea menghadapi pressing blok tinggi City dalam banyak kesempatan. Tim tamu melakukan pressing blok tinggi dengan pola 4–3–3.

Ketiga pemain depan menutup akses progresi Chelsea melalui area tengah. Dua pemain sayap, Sterling dan Mahrez, berorientasi ke kedua bek tengah Chelsea, Christensen dan Rudiger. Sementara Silva menekan penjaga gawang sekaligus melakukan cover shadow terhadap No. 6 Chelsea, Kante. Di belakangnya, dua No. 8, De Bruyne dan Gundogan melakukan penjagaan perorangan kepada dua No. 8 lawan, Barkley dan Mount. Sementara Rodri di posisi No. 6 memberikan cover ketika dua pemain di depannya melakukan pressing di area yang lebih tinggi.

Mekanisme Chelsea dalam mengatasi blok pressing lawan adalah dengan melakukan kombinasi di area sayap dengan memanipulasi pressing City di lini tengah. Pemain Chelsea menarik pemain City untuk melakukan pressing, lalu memanfaatkan ruang yang ditinggalkan melalui kombinasi dengan pemain sayap.

Salah satunya terjadi di menit ke-27. Operan satu dua antara Kepa dan Christensen berhasil memancing Bernardo Silva untuk melakukan pressing. Akibatnya, N’Golo Kante berhasil keluar dari cover shadow dan bisa melakukan progresi via Azpilicueta. Di sisi lain, Kante berhasil menarik Rodri ke atas dan posisi Giroud dan Pulisic mencegah backline City melakukan pressing ke depan. Mekanisme tersebut memberikan ruang bagi Willian untuk melakukan switch play ke sisi jauh.

Situasi serupa terjadi pada menit ke-31. Kali ini, pemain No. 8 (Barkley) yang berperan dengan turun sedikit ke tengah dan menarik Gundogan bersamanya. Akibatnya, Christensen memiliki jalur umpan langsung ke lini depan. Chelsea kemudian dapat melakukan progresi lewat umpan vertikal kepada Pulisic.

Pemain No. 9 Chelsea juga memiliki peran penting dalam proses build-up serangan. Bola-bola panjang kepada keduanya mampu menjadi solusi bagi Chelsea untuk keluar dari tekanan. Kemampuan Giroud dan Tammy Abraham dalam memenangkan bola pertama menjadi poin plus untuk melakukan lay-off kepada gelandang yang memanfaatkan bola kedua.

Kemampuan No. 9 Chelsea dalam bola pertama juga mampu menciptakan ruang bagi pemain lain. Ketika No. 9 menerima bola pertama, ia akan menarik salah satu bek tengah yang melakukan penjagaan terhadap No.9. Hal tersebut akan membuat bek tengah lainnya terekspos karena ruang yang harus di-cover cukup luas. Apalagi dengan garis pertahanan City yang tinggi, sehingga ruang yang tercipta semakin luas. Hal tersebut yang menjadi celah untuk dieksploitasi pemain sayap Chelsea, seperti Pulisic, yang memiliki keunggulan dari segi kecepatan dibandingkan bek tengah lawan.

Dummy yang dilakukan Abraham mampu menarik Otamendi keluar dan menciptakan ruang yang dieksploitasi Pulisic.

Kesimpulan

Kemenangan atas City menjadi penting bagi Chelsea dalam upaya mengamankan tiket Liga Champions musim depan. Kedisiplinan Chelsea dalam mengontrol ruang memegang peranan penting dalam keberhasilan tersebut. Di sisi lain, respons City terhadap blok pertahanan Chelsea justru tidak efektif dan malah mengekspos pertahanan mereka sendiri. Kemampuan Chelsea dalam memanfaatkan momen transisi membantu dalam mengeksploitasi pertahanan lawan. Di sisi lain, kemampuan pemain no. 9 Chelsea dalam mengamankan bola pertama mampu menjadi solusi build-up Chelsea menghadapi pressing blok tinggi City.

Enjoying football as it's meant to be

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store