Liga Inggris 2019/20: Analisis Pencapaian Tim ‘Big Six’ Berdasarkan Perolehan Poin

Foto: liverpoolfc.com

Liga Primer Inggris musim 2019/20 (akhirnya) resmi berakhir. Liverpool berhasil memastikan gelar juara Liga Inggris pertamanya sejak 30 tahun terakhir. The Reds unggul telak 18 angka di atas pesaing terdekatnya, Manchester City.

Akan tetapi, apakah Liverpool benar-benar se-perkasa itu? Atau hanya persoalan kompetitor yang lebih sering terpeleset?

Untuk itu tulisan ini akan membahas mengenai hasil akhir Liga Inggris musim ini di antara tim-tim Big Six (Man City, Liverpool, Chelsea, Tottenham Hotspurs, Man United, dan Arsenal). Penilaian akan dikontekstualisasi dengan jumlah poin yang diraih oleh masing-masing kesebelasan di lima musim terakhir.

Jumlah poin bisa menjadi indikator yang lebih fair dalam menilai pencapaian suatu tim dalam kompetisi liga dibandingkan hanya menilai dari peringkat di klasemen akhir. Jumlah poin akan murni merefleksikan hasil akhir yang diraih oleh tim tersebut; berapa kali menang, seri, atau kalah. Hal ini bisa dikaitkan dengan penilaian terhadap progres tim dalam jangka panjang.

Penilaian berdasarkan peringkat akan sangat dipengaruhi oleh konteks pencapaian tim-tim lainnya. Misalnya pada kasus Liverpool di musim lalu. Perolehan 97 poin di musim 2018/19 sebenarnya sangat fenomenal, tetapi hanya berujung pada status runner-up. Akan tetapi, jika Liverpool meraih poin tersebut di musim 2016/17 atau 2015/16 mereka akan menjadi juara.

Contoh lain adalah Manchester United dan Chelsea. Musim ini keduanya finis di peringkat 3 dan 4 dengan 66 poin. Perolehan tersebut pada musim ini memberikan keduanya tiket Liga Champions untuk musim depan. Akan tetapi, jumlah poin yang sama pada musim lalu hanya cukup untuk posisi ke-6.

Tabel berikut memperlihatkan catatan perolehan poin masing-masing klub selama lima musim terakhir beserta rata-ratanya. Nilai rata-rata tersebut menjadi refleksi pencapaian masing-masing klub selama lima musim terakhir.

Selanjutnya dapat dilihat rata-rata poin berdasarkan peringkat klasemen akhir. Misalnya, rata-rata poin tim peringkat tiga. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan angka yang ‘aman’ untuk meraih posisi tertentu.

Dari tabel di atas dapat dilihat kalau tim yang ingin bersaing di jalur juara, harus setidaknya bisa mengumpulkan 90 angka. Lalu untuk masuk ke zona Liga Champions, maka setidaknya butuh lebih dari 70 angka. Hal ini kemudian bisa membuat target yang ditetapkan oleh tim menjadi lebih konkrit. Tim menjadi punya nominal khusus yang dituju, dibandingkan sekadar abstrak “harus empat besar” dan semacamnya.

Berdasarkan standar di atas, bagaimana performa masing-masing tim enam besar?

Liverpool

Secara statistik, berdasarkan jumlah poin Liverpool musim ini meraih 99 angka, atau ‘hanya’ lebih banyak 2 poin dari musim sebelumnya (97). Mereka cukup konsisten mendapatkan lebih dari 90 poin dua musim belakangan. Pencapaian musim ini tidak mengherankan karena mereka bisa mempertahankan kuantitas output dari musim lalu. Jika melihat tren juara Liga Inggris selama lima musim terakhir, angka 90 poin menjadi semacam ‘jumlah minimum’ untuk bersaing di perebutan gelar juara dan Liverpool berhasil memenuhi ‘standar’ tersebut.

Dalam lima musim terakhir Liverpool menjadi satu-satunya tim Big Six yang dimanajeri oleh orang yang sama. Di bawah Jürgen Klopp, mereka terlihat mempunyai proyek jangka panjang yang hasilnya mulai bisa dilihat di dua musim belakangan.

Jika melihat tren poin Liverpool yang cenderung meningkat selama lima musim terakhir, tidak mengherankan apabila Liverpool bisa sekuat sekarang. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa lama mereka bisa mempertahankan dominasinya?

Manchester City

Meski mendapatkan gelar runner-up, musim ini tidak bisa dikatakan baik bagi Manchester City. Finis dengan 81 angka dan 9 kekalahan merupakan capaian terendah dalam tiga musim terakhir. Musim lalu Manchester City menjuarai liga dengan 98 poin. Pada musim sebelumnya mereka mengukir rekor Centurion, yaitu menjuarai liga dengan 100 angka.

Bagi tim dengan anggaran sebesar City, tentu tuntutan akan lebih besar. Kegagalan juara musim ini, ditambah fakta bahwa mereka terpaut 18 angka dari tim di atasnya, membuat Pep Guardiola harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap skuatnya.

Faktor cedera dan kedalaman skuat bisa menjadi salah satu alasan. Pep musim ini harus memutar otak untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pemainnya yang cedera. Musim ini City cukup sering ditinggal pemain kuncinya yang absen lama akibat cedera, mulai dari Leroy Sane, Ederson, Aymeric Laporte, John Stones, hingga Sergio Aguero. Menarik bagaimana Pep ‘merenovasi’ skuatnya nanti di bursa transfer untuk mengejar gap enam kemenangan yang memisahkan mereka dengan Liverpool.

Chelsea

Secara capaian poin, Chelsea termasuk tim yang mengalami penurunan. Perolehan 66 poin merupakan yang terendah sejak musim 2015/16 di mana mereka finis di peringkat 10 dengan 50 poin. Belum lagi rekor buruk lain, seperti 12 kali kalah dan 54 kali kebobolan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor embargo transfer ditambah kehilangan Hazard yang menjadi sumber 50% gol Chelsea musim lalu menjadi tantangan besar bagi Frank Lampard di musim keduanya di arena kepelatihan. Lampard cukup baik dalam menerapkan sepakbola yang atraktif dengan pemain-pemain muda, tetapi secara taktikal masih banyak yang harus diperbaiki. Angka kebobolan menyiratkan Chelsea perlu membenahi mekanisme pertahanan, terutama dalam situasi transisional yang banyak mengekspos pertahanan Chelsea.

Keberhasilan lolos ke Liga Champions bisa dibilang terbantu dengan performa mengkhawatirkan dari dua klub London Utara dan menurunnya penampilan Leicester di paruh kedua. Angka 66 belum menjadi angka yang aman bagi Lampard apabila ingin konsisten di papan atas. Menyongsong musim depan, dua pemain bintang sudah didapatkan dan masih ada beberapa pemain lain yang dikaitkan. Manuver tim London Barat di bursa transfer sejauh ini mengisyaratkan adanya upaya untuk mengejar dominasi Liverpool dan City.

Manchester United

Mirip dengan Chelsea, secara jumlah poin, kelolosan United ke Liga Champions juga belum bisa dikatakan berada di kategori yang aman. Secara tren, perolehan poin United dalam lima musim terakhir konsisten berada di angka 60-an. Satu-satunya musim di mana United finis dengan poin lebih dari 70 adalah pada 2017/18. Di bawah Jose Mourinho, United berhasil finis di posisi kedua dengan 81 angka.

Perolehan poin United di musim ini (66) sama dengan musim sebelumnya. Padahal United sudah menggelontorkan belanja hingga lebih dari 200 juta paun untuk beberapa mega transfer, seperti Harry Maguire, Aaron Wan Bissaka, dan Bruno Fernandes. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan terkait dengan kapabilitas Ole Gunnar Solskjaer di kursi kemudi. Benarkah United berkembang di bawah Ole? Dengan skuat yang jauh lebih baik, mengapa perolehan poin United masih sama dengan musim lalu?

Meski begitu secara tren memang United mengalami peningkatan sejak paruh kedua. Setelah beberapa pemain kunci pulih dari cedera dan Bruno berhasil didatangkan, performa United membaik dan mampu menembus tiga besar. Pemain yang dibeli juga menjadi pemain kunci di musim ini. Artinya, keinginan Ole sebenarnya sudah dipenuhi oleh manajemen United. Selebihnya adalah bagaimana manajer asal Norwegia tersebut mengembangkan potensi skuatnya yang sudah mulai terlihat cetak birunya di akhir musim ini.

Tottenham Hostpurs

Tren perolehan poin Spurs sebetulnya menunjukkan bahwa mereka merupakan tim yang layak di empat besar. Selama empat musim sebelumnya Spurs konsisten meraih 70+ poin dan terus menerus berada di empat besar klasemen.

Inkonsistensi di awal musim kemudian membuat manajemen bergerak cepat memecat Mauricio Pochettino. Pelatih kenamaan asal Portugal, Jose Mourinho kemudian mengambil alih. Di bawah Mourinho, Spurs mengalami perkembangan yang cukup pesat. Sempat berada di papan tengah, Mourinho berhasil meloloskan Spurs ke kompetisi Eropa di pekan terakhir. Dalam perjalanannya Spurs juga berhasil mendapatkan poin dari sesama tim papan atas, seperti United, Arsenal, dan Leicester.

Ke depannya, bukan tidak mungkin Spurs kembali masuk ke jajaran empat besar. Mourinho dikenal sebagai pelatih yang sangat mengedepankan hasil akhir. Hal ini bisa menjadi katalis bagi Spurs dalam proyeksi kembali ke empat besar, atau justru meraih trofi.

Arsenal

Perolehan poin Arsenal dalam lima musim terakhir boleh dibilang sebelas-dua belas dengan Man United. Secara rata-rata, perolehan poin Arsenal masih berada di angka 60-an. Meski begitu Arsenal tiga kali finis dengan poin 70+, yaitu pada 2018/19 (70 poin), 2016/17 (75), dan 2015/16 (71). Sayangnya dari tiga kesempatan tersebut Arsenal hanya sekali finis di empat besar, yaitu pada 2015/16 ketika mereka menjadi runner-up.

Musim ini merupakan perolehan 56 poin merupakan yang terendah dalam lima musim terakhir. Sempat berganti manajer, Arsenal masih berkutat di papan tengah. Pasca restart dan perubahan formasi ke 3–4–3 The Gunners tampil lebih baik dan berpeluang lolos ke kompetisi Eropa lewat jalur Piala FA.

Kesimpulan

Berdasarkan perolehan poin lima musim terakhir, klub-klub Big Six dapat dibagi ke dalam tiga kategori. Kategori pertama merupakan kategori kandidat juara, yang berisikan Liverpool dan City. Perolehan poin keduanya nyaris selalu konsisten di empat besar dan mendominasi liga di tiga musim terakhir. Rasa-rasanya keduanya juga kecil kemungkinan untuk terselip dari empat besar dalam waktu dekat. Kategori kedua adalah kategori Liga Champions yang terdiri dari Spurs dan Chelsea. Keduanya memiliki rataan poin di atas 70 angka. Akan tetapi, inkonsistensi di antara keduanya dapat menjadi peluang bagi tim-tim di kategori ketiga. Man United dan Arsenal secara rataan poin masih berada di zona Liga Eropa, akan tetapi mereka bisa saja masuk ke empat besar memanfaatkan penurunan performa tim di kategori di atasnya.

Patut dipahami bahwa kategorisasi tersebut bersumber dari perolehan poin masing-masing tim di lima musim ke belakang. Kelolosan tim ke kompetisi Eropa atau keberhasilan menjuarai liga tentu saja ditentukan oleh posisi klasemen. Akumulasi dan perhitungan perolehan poin tersebut lebih kepada penilaian terhadap progres tim tersebut dalam jangka waktu tertentu.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store