Para Ujung Tombak Tim Nasional: Dari Bambang, Budi, dan Boaz sampai Brate dan Beto.

Bambang Pamungkas memajang jersey khusus usai mencetak golnya yang ke-200 bagi Persija Jakarta. Foto https://twitter.com/Persija_Jkt

Nadeo Argawinata tentu tidak menyangka akan mendapat kehormatan untuk memungut gol ke-200 dari Bambang Pamungkas untuk Persija Jakarta dari gawangnya sendiri

Nadeo belum genap berusia tiga tahun saat Bambang Pamungkas mencetak gol pertamanya bagi kesebelasan ibu kota. Sejak saat itu, sang penyerang terus menuliskan sejarahnya dengan mencetak 199 gol lainnya dengan lambang monas di dada.

Nadeo bukanlah kiper pertama (dan semoga bukan yang terakhir) yang memungut gol Bambang Pamungkas dari gawangnya sendiri. Tidak sedikit nama-nama penjaga gawang legendaris dari tingkat lokal hingga internasional pernah mengalami nasib yang sama.

Dua ratus gol tadi belum termasuk 36 gol di tim nasional*, 42 di Selangor FA, 7 di EHC Norad, dan 10 di Pelita Bandung Raya. Tentu catatan 295 gol selama dua puluh tahun berkarier merupakan catatan yang fantastis jika kita bicara mengenai gol di tingkat sepak bola profesional. Hanya segelintir pemain legendaris yang bisa mencapainya. Dan kita dapat berbangga ketika salah satu dari kita, Bambang Pamungkas, dapat mencapainya.

“Selama Bambang Pamungkas masih bermain, maka tugas utama dia adalah mencetak gol.”

Begitu penggalan dari pernyataan pemain yang bersangkutan dalam konferensi pers pascalaga Persija vs Borneo FC di mana ia mencetak golnya yang ke-200. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sang pemain akan dikenang dengan gol-golnya sebagai penanda bahwa Bambang Pamungkas merupakan salah satu pemain terbaik yang dimiliki negeri ini.

Bambang Pamungkas rasanya layak untuk terus disejajarkan dengan penyerang-penyerang terbaik yang pernah memperkuat tim nasional. Apalagi sampai sekarang Bepe masih menyandang titel mentereng dan bukan main-main: “Pencetak Gol Terbanyak Tim Nasional Indonesia Sepanjang Masa.” Sebuah titel yang rasanya akan sulit dan butuh waktu lama untuk disamai pemain lain, apalagi mengingat Timnas saat ini yang kesulitan menemukan sosok penyerang andalan.

Kalimat terakhir di paragraf sebelumnya ditulis bukan tanpa alasan. Timnas seakan kesulitan untuk menemukan ujung tombak yang bisa menjadi pemecah kebuntuan lewat gol-gol di momen-momen krusial. Terutama dalam dua-tiga tahun belakangan di mana Timnas kerap melakukan bongkar pasang pemain di posisi nomor sembilan.

Pada turnamen Piala AFF 2016, di bawah rezim Alfred Riedl Jilid III, Timnas mengandalkan Boaz Solossa sebagai ujung tombak yang diduetkan dengan Stefano Lilipaly di posisi no. 10 dalam formasi 4–2–3–1. Alternatif lainnya adalah menduetkan Boaz dengan Lerby Eliandri dalam pola 4–4–2. Pada pertandingan-pertandingan sebelum turnamen, Boaz kerap diduetkan dengan Irfan Bachdim. Sayangnya Bachdim mengalami cedera sehingga batal diikutsertakan dalam skuat akhir.

Menjelang Asian Games 2018, secara bergantian Timnas di bawah asuhan Luis Milla menggunakan dua pemain naturalisasi, Ilija Spasojevic dan Alberto ‘Beto’ Goncalves sebagai pemain utama di posisi nomor 9. Keduanya diproyeksikan untuk mengisi satu slot pemain senior di ajang tersebut. Pada akhirnya, Beto-lah yang dipilih oleh Milla sebagai penyerang utama dalam formasi 4–2–3–1. Hasilnya tidak begitu mengecewakan di mana Beto menjadi top skorer tim dengan torehan empat gol dan turut membawa Indonesia sampai babak 16 Besar.

Beto dan Lilipaly menjadi ‘duet maut’ dalam Asian Games 2018 lalu. Masing-masing mencetak empat gol dari lima pertandingan. Foto: bolatimes.com

Di Piala AFF 2018 empat bulan berikutnya, Beto kembali menjadi andalan Timnas, yang kali ini dilatih oleh Bima Sakti. Mentok di fase grup, Beto hanya mencetak sebiji gol bagi Timnas yang tampil melempem sepanjang turnamen.

Tahun 2019, jabatan pelatih kepala Timnas dipegang oleh Simon McMenemy. Di bawah pelatih asal Britania Raya tersebut, Spaso dan Beto masih menjadi andalan untuk mengisi posisi nomor 9, ditambah dengan satu pemain naturalisasi lainnya, Greg Nwokolo. Greg dan Spaso mendapat menit bermain ketika menghadapi Myanmar pada ujicoba di Bulan Maret, di mana keduanya masing-masing mencetak satu gol dalam kemenangan 2–0. Pada kalender ujicoba Bulan Juni, giliran Beto yang mendapat kesempatan menghadapi Yordania dan Vanuatu. Menghadapi kesebelasan yang disebut belakangan, Beto sukses mencetak quattrick dalam kemenangan telak 6–0.

Jika melihat tren tersebut, Timnas memiliki kecenderungan untuk menggunakan jasa pemain naturalisasi ketimbang penyerang ‘asli’ Indonesia, yang kerap menjadi pemain serep. Penggunaan pemain naturalisasi mulai menjadi opsi yang menarik di tengah kebuntuan striker-striker lokal. Apalagi dengan kesuksesan Cristian Gonzales pada 2010.

Sejak saat itu, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, penggunaan penyerang naturalisasi menjadi lazim. Apalagi jika melihat konteks preferensi taktikal Timnas yang kerap menggunakan formasi dengan satu penyerang saja, dan membuat penyerang-penyerang lokal seperti Boaz, Samsul Arif, hingga Dedik Setiawan dimainkan lebih melebar.

Cristian Gonzales dalam salah satu adegan di Piala AFF 2010. Gonzales merupakan salah satu pemain naturalisasi yang terbilang ‘berhasil.’ Foto: tempo.co

Sebelum terdengar sebagai seseorang yang ultra-nasionalis, penggunaan pemain naturalisasi bukanlah hal yang saya tolak mentah-mentah. Siapapun pantas membela Tim Nasional selama dia layak dan tidak melanggar aturan. Kalaupun tiba-tiba FIFA mengubah regulasi dan memperbolehkan Kylian Mbappe membela Indonesia, ya silakan saja.

Permasalahan yang timbul dari penggunaan pemain naturalisasi tersebut adalah terlihatnya kegagalan kompetisi dalam memproduksi penyerang-penyerang yang dapat menjadi andalan Tim Nasional. Pemain yang bermain untuk Timnas dipilih dari Konsistensi dalam mencetak gol dalam kompetisi. Untuk urusan yang satu ini, klub-klub di kompetisi teratas (Liga 1) lebih banyak mempercayakannya kepada pemain asing.

Berdasarkan data labbola, pada Liga 1 2018 lalu, hanya ada dua tim, yaitu PSM dan Barito yang memiliki top skorer asli lokal. PSM memiliki Ferdinand Sinaga dengan 10 gol, sementara Barito mengandalkan Samsul Arif yang mengoleksi 14 gol, sekaligus menjadi pemain lokal dengan catatan gol terbanyak. Sementara itu 16 tim lainnya mengandalkan pemain asing atau naturalisasi sebagai mesin golnya.

Begitu juga dengan musim 2019. Dari 21 pemain yang berhasil mencetak 10 gol atau lebih, hanya 6 yang merupakan pemain lokal. Dari 6 pemain tersebut, 4 di antaranya merupakan pemain naturalisasi.

Hal ini bisa dilihat dari sudut pandang sepakbola. Sejak operator liga membatasi jumlah pemain asing, klub-klub kontestan tentu tidak sembarangan dalam memanfaatkan ‘jatah’ tersebut.

Dengan preferensi mayoritas tim di liga yang menggunakan formasi dengan penyerang tunggal, seperti 4–2–3–1 dan variannya, ‘jatah’ 4 pemain asing lebih didayagunakan untuk posisi-posisi strategis; bek tengah, gelandang tengah, gelandang serang, dan penyerang. Hal tersebut turut membuat pemain lokal di posisi tersebut menjadi dinomorduakan.

Bahkan beberapa kesebelasan yang memakai formasi dua penyerang tidak ragu untuk menggunakan duet penyerang asing. Misalnya Persib pada musim 2018 dengan duet Ezechiel N’Douassel dengan Jonathan Baumann, atau Arema FC di musim 2020 dengan Elias Aldarete dengan (lagi-lagi) Baumann.

Kompetisi merupakan ajang yang paling ideal dalam membentuk pemain. Dengan pertandingan yang berkelanjutan, kemampuan pemain akan lebih teruji dan menghasilkan output yang maksimal.

Melihat tren klub-klub kasta tertinggi yang masih mengandalkan penyerang asing, tentu kehadiran penyerang lokal yang menonjol di liga dan bisa menjadi andalan tim nasional masih sulit terwujud dalam waktu dekat.

Pemanggilan pemain tim nasional di bawah pelatih baru, Shin Tae Yong, memang mengindikasikan adanya kecenderungan mempercayai penyerang asli lokal. Dari empat penyerang yang dipanggil, hanya satu yang merupakan pemain naturalisasi, yaitu Spasojevic. Meski demikian, hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan karena pemain yang dipanggil tersebut bukan merupakan pilihan Shin, melainkan rekomendasi Indra Sjafri.

Harapan akan adanya penyerang lokal berkualitas yang memimpin lini serang tim nasional tidak sirna begitu saja. Masih ada pemain-pemain di level usia muda yang memiliki catatan apik dan berpotensi memiliki karier gemilang di masa mendatang.

Jika harus menyebut nama, mungkin Amiruddin Bagus Kahfi bisa menjadi jawaban. Penyerang tersebut memiliki catatan gol dan penampilan yang meyakinkan di tim nasional kelompok umur juga bersama tim Garuda Select. Jalan memang masih panjang dan apapun bisa terjadi, namun Bagus — yang bernomor punggung 20, sama dengan Bambang Pamungkas — punya potensi untuk meneruskan peran Bambang, Budi, dan Boaz menjadi penyerang andalan merah putih.

*berdasarkan catatan resmi FIFA

Enjoying football as it's meant to be

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store