Pratinjau Taktikal Timnas Spanyol di Piala Dunia 2018

Sempat merajai persepakbolaan Eropa dan dunia pada 2008–2012, Spanyol kemudian gagal total di dua turnamen besar berikutnya. Tim Matador harus angkat koper sangat awal di Piala Dunia Brazil 2014 setelah tersingkir di penyisihan grup. Di ajang Piala Eropa yang dihelat di Prancis dua tahun setelahnya, Spanyol hanya mampu mencapai babak 16 besar usai ditaklukan Italia 0–2. Ajang empat tahunan di Rusia tahun ini merupakan momen yang pas bagi Spanyol untuk ‘menebus’ kegagalan di dua turnamen sebelumnya.

Catatan: sebagian besar observasi yang dilakukan dalam menyusun tulisan ini dilakukan sebelum pelatih kepala Spanyol, Julen Lopetegui, dipecat pada 13 Juni. Karena itu, perubahan dalam permainan Spanyol baik besar maupun kecil bisa saja terjadi.

Kualifikasi

Di babak kualifikasi, Spanyol menjuarai grup G dengan 28 poin. Spanyol tidak terkalahkan di grup, memenangi 9 dari 10 pertandingan. Dapat dikatakan Spanyol lolos dari grup dengan relatif mudah.

Skuad dan Susunan Line-up

Daftar 23 pemain Spanyol yang dibawa ke Rusia tidak banyak berbeda dari turnamen-turnamen sebelumnya. Masih ada nama-nama senior, semacam Sergio Ramos, Andres Iniesta, dan David Silva, Gerard Pique, dan Sergio Busquets. Pemain-pemain senior tersebut dikombinasikan dengan pemain-pemain yang berada di usia matang dan sedang berada di puncak performa, seperti Isco, Dani Carvajal, Jordi Alba, Thiago, David De Gea, dan Koke. Ditambah dengan pemain muda; Marco Asensio, Saul, Kepa, dan Alvaro Odriozola.

Pelatih (ketika itu) Julen Lopetegui meninggalkan beberapa nama beken yang bermain di Liga Primer. Nama-nama seperti Alvaro Morata, Cesc Fabregas, Pedro Rodriguez, dan Hector Bellerin dinilai sang (mantan) bos tidak cukup mumpuni untuk bermain di Piala Dunia. Lopetegui lebih memilih Rodrigo, Iago Aspas, Lucas Vazquez, dan Alvaro Odriozola. Menariknya keempat nama yang disebut belakangan semuanya bermain di La Liga.

Susunan awal Spanyol sebetulnya cukup jelas. Tim dari Semenanjung Iberia ini dalam babak kualifikasi maupun pemanasan sebelum Piala Dunia kerap turun dalam formasi awal 4–3–3 yang bisa berubah menjadi 4–2–3–1 atau 4–2–1–3.

David de Gea menjadi pilihan utama di bawah mistar. Kemampuan De Gea sebagai salah satu kiper terbaik saat ini, tak hanya dari aspek shot-stopping saja, kemampuan distribusi bolanya sangat membantu dalam eksekusi taktik Spanyol yang membangun serangan dari bawah.

Posisi bek tengah akan diisi duet Sergio Ramos dan Gerard Pique. Keduanya cukup konsisten dan telah berduet di jantung pertahanan Spanyol sejak Piala Eropa 2012. Dengan kemampuan dalam bertahan maupun memulai serangan yang baik, duet ini bisa dibilang sebagai salah satu det bek tengah terbaik di era modern.

Dani Carvajal dan Jordi Alba di kedua sisi sayap lini pertahanan. Keduanya memenuhi kriteria sebagai fullback modern yang kerap naik membantu dalam fase build-up hingga eksekusi peluang. Khusus Carvajal, apabila bek kanan Real Madrid tersebut belum sepenuhnya fit dari cedera, posisinya kemungkinan diisi oleh Odriozola atau Nacho.

Lini tengah merupakan kekuatan utama Spanyol karena diisi oleh pemain-pemain dengan kualitas di atas rata-rata. Pos gelandang bertahan (#6) akan diisi oleh Sergio Busquets yang merupakan salah satu pemain jempolan di area tersebut. Busquets akan beroperasi di belakang duo #8, Iniesta dan salah satu di antara Thiago dan Koke.

Posisi sayap di lini depan akan diisi oleh David Silva dan Isco. Keduanya dapat dikatakan memberi dampak signifikan terhadap output hasil akhir permainan. Selama babak kualifikasi, keduanya masing-masing mencetak lima gol dan menjadi pencetak gol terbanyak tim bersama Diego Costa dan Alvaro Morata.

Posisi penyerang tengah (#9) masih sangat mungkin terjadi rotasi. Baik Diego Costa, Rodrigo, maupun Iago Aspas memiliki peluang yang sama untuk menjadi starter jika dilihat dari beberapa laga ujicoba terakhir di mana ketiganya kerap dimainkan bergantian. Pilihan di lini depan mungkin akan ditentukan oleh profil lawan yang dihadapi. Costa merupakan striker yang kuat dalam duel dan mampu melindungi bola. Sementara Rodrigo dan Aspas memiliki kecepatan yang dapat berguna merusak jebakan offside tim-tim dengan garis pertahanan tinggi.

Fase Menyerang: Membangun Serangan dari Bawah dan Keluwesan Formasi

Dalam sistem permainannya Spanyol banyak menekankan pada penguasaan bola sebagai sarana untuk mencetak gol. Dalam fase menyerang Spanyol membuat area permainan selebar mungkin dengan mengisi setiap koridor vertikal yang ada.

Spanyol membangun serangannya dari bawah. Proses build-up serangan dimulai dari kiper dan kedua bek tengah yang mengambil posisi di area half-space. Kedua fullback diposisikan mengisi koridor vertikal terluar, yakni area flank. Kedua fullback juga mengambil posisi cukup tinggi guna mendorong blok pressing lawan agar lebih turun ke areanya sendiri. Untuk mengompensasi posisi fullback yang tinggi, pemain #6 atau #8 terdekat turun di area half-space untuk membuka akses bola sekaligus menciptakan situasi menang jumlah apabila lawan memainkan pressing blok tinggi. (Catatan: dalam beberapa situasi, winger juga kerap masuk ke area half-space yang lebih tinggi untuk mendapatkan akses ke bola).

Apabila proses build-up dari bawah tidak memungkinkan untuk dilakukan, Spanyol akan langsung memainkan bola ke depan. Dalam hal ini pemain #9 akan menjadi sasaran umpan. Pemain di sekitarnya akan mengambil jarak yang tidak berjauhan untuk memenangi bola kedua.

Lini tengah merupakan kunci bagi permainan Spanyol. Kualitas pemain-pemain Spanyol di area ini sangat membantu dalam permainan penguasaan bola Spanyol. Hal ini juga ditambah oleh kemampuan para gelandang Spanyol dalam membaca permainan. Contoh pada kasus di bawah ini, di mana Isco turun untuk menjemput bola di area half-space kanan. Sebagai gantinya Koke, pemain #8 terdekat dengan bola, naik ke posisi Isco untuk menjaga width saat menyerang.

Pertukaran posisi semacam ini sangat jamak ditemukan di area tengah Spanyol. Hal ini dapat memecah blok pressing yang dilakukan lawan karena menyulitkan mereka dalam melakukan penjagaan. Hal tersebut juga membantu Spanyol mempertahankan konektivitas serangan dari bawah ke area yang lebih tinggi.

Dalam sistem Lopetegui Isco diberikan peran free role. Isco, yang juga menjadi andalan Lopetegui di Tim nasional U-21, berposisi awal di sayap kiri, namun kerap ditemui masuk ke area #10, #8, bahkan #6. Kemampuan Isco dalam situasi 1v1 dan pressing resistance yang baik dapat membawa Spanyol lepas dari pressing lawan. Isco dipercaya akan menjadi kunci bagi Spanyol. Kebebasan yang diberikan dalam sistem permainan Spanyol menguntungkan baik bagi Isco maupun bagi Spanyol secara keseluruhan.

Spanyol juga memanfaatkan pergerakan tanpa bola dari para pemainnya yang berada di lini depan untuk membuka ruang di area flanks. Dalam situasi di bawah ini, Diego Costa dan Marco Asensio bergerak di antara bek tengah dan bek sayap Argentina. Pergerakan keduanya membuat orientasi penjagaan keempatnya terpecah dan membuka ruang bagi Carvajal di sisi kanan.

Fase Bertahan: Pressing Tinggi dan Counterpressing

Untuk menunjang permainan penguasaan bola mereka, Spanyol memasang garis pertahanan tinggi. Blok pressing tim matador juga banyak dimulai dari area yang tinggi di wilayah pertahanan lawan. Tujuannya adalah merebut bola sedini mungkin. Spanyol tidak akan membiarkan lawan berlama-lama menguasai bola. Menghadapi pressing Spanyol, lawan dipaksa untuk membuang bola ke depan atau membuat kesalahan. Kedua opsi tersebut memiliki probabilitas tinggi untuk sama-sama berakhir pada penguasaan bola untuk Spanyol.

Bentuk pressing Spanyol di blok tinggi menyesuaikan bentuk build-up lawan. Ketika menghadapi Jerman yang melakukan build-up dengan 2 bek tengah dan 2 pemain #6 di half-space, Spanyol memakai bentuk 4–3–2–1. Di pertandingan lain melawan Argentina yang membangun serangan dengan 2 bek tengah dan 1 pemain #6, blok Spanyol berbentuk 4–4–2. Ketika memasuki blok menengah dan rendah, bentuk pressing Spanyol lebih kepada bentuk 4–1–4–1/4–1–4–1–0 dengan satu pemain #6 di ruang antarlini.

Dalam melakukan pressing para pemain Spanyol banyak melakukan cover shadow. Orientasi pressing La Roja adalah menutup opsi-opsi passing dari pemain lawan yang memegang bola. Aksi cover shadow ini memungkinkan Spanyol berhasil dalam melakukan pressing kendati kalah jumlah pemain.

Pressing Spanyol melawan Argentina

Ketika terjadi transisi perpindahan penguasaan bola ke tim lawan maupun dalam kondisi bola 50:50, pemain-pemain Spanyol sangat cepat dalam melakukan counterpressing. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa Spanyol tidak ingin lawan menguasai bola dan mengorganisasi serangannya. Jarak antarpemain yang tidak saling berjauhan sangat mendukung terjadinya counterpressing ini. Sangat jarang Spanyol memilih mundur dan mengorganisasi pertahanan. Pilihan tersebut baru diambil apabila lawan berhasil lolos dari counterpressing.

Aksi pressing dan counterpressing Spanyol yang dieksekusi dengan baik dapat beberapa kali menghasilkan peluang atau gol bagi Spanyol. Dengan melakukan dua hal tersebut di area yang tinggi, jarak dengan gawang lawan lebih kecil sehingga penciptaan peluang lebih cepat.

Counterpressing Spanyol di sepertiga akhir

Potensi Kelemahan

Memainkan garis pertahanan tinggi dengan agresi tinggi untuk memenangi bola di saat pertama tentu menimbulkan risiko yang tidak sedikit pada pertahanan. Lawan dengan profil serangan balik yang bagus dapat memanfaatkan ruang yang besar di belakang garis pertahanan yang tinggi. Argentina, yang beberapa kali berhasil lepas dari pressing dan counterpressing Spanyol pada laga persahabatan Maret lalu, beberapa kali menciptakan situasi berbahaya lewat serangan balik. Meski dalam, setidaknya, empat laga pemanasan terakhir belum pernah kebobolan dari situasi tersebut, hal ini tentu harus menjadi perhatian karena kontestan lain akan terus mengincar situasi-situasi semacam ini.

Di sisi lain, penguasaan bola yang banyak tidak menjamin Spanyol memiliki segudang peluang bersih (clear cut chance) dan banjir gol di tiap laganya. Di luar kemenangan 6–1 atas Argentina (28/3), Spanyol hanya bermain imbang 1–1 melawan Jerman (23/3) dan Swiss (4/6) serta menang tipis 1–0 atas Tunisia (10/6). Menjadi tantangan sendiri bagi Spanyol agar bisa mengkapitalisasi superioritas dalam permainan ke dalam hasil akhir. Hal ini mirip dengan kondisi Spanyol di Piala Dunia 2010 di mana Spanyol menjadi juara dengan hanya mencetak 8 gol sepanjang turnamen, dengan kemenangan 1–0 berturut-turut sejak babak 16 besar sampai final.

Kesimpulan

Spanyol merupakan salah satu tim yang patut disaksikan di Piala Dunia kali ini. Julen Lopetegui dapat dikatakan sukses mengubah Spanyol dalam waktu kurang dari dua tahun untuk kembali menjadi kekuatan sepakbola dunia. Ajang ini sejatinya dapat menjadi pembuktian bagi Sergio Ramos cs. Peluang Spanyol cukup besar bersama Brasil, Jerman, dan Prancis.

Pemecatan pelatih hanya dua hari jelang turnamen besar tentu saja sangat disayangkan, apapun alasan yang terjadi di balik itu semua. Saya pribadi tidak begitu mengikuti kiprah dari pelatih pengganti, Fernando Hierro. Yang jelas, akan menjadi blunder besar apabila Hierro banyak melakukan perombakan dalam sistem yang ada dengan waktu yang mepet. Sistem permainan yang dibangun Lopetegui dalam tim ini sebetulnya sudah baik apapun kelebihan dan kekurangannya. Tantangan mungkin akan datang ketika terjadi situasi-situasi kritis di mana kecerdasan pelatih dalam membaca situasi dan membuat keputusan krusial sangat dibutuhkan. Spanyol dapat melaju jauh di kesempatan tahun ini. Juara bukan hal yang mustahil, meski mencapai semi-final terlihat lebih realistis.

Tulisan asli sudah pernah dimuat di sini

Enjoying football as it's meant to be

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store