Pressing Ketat dan Bola Mati: Getafe Menyingkirkan Ajax dengan Cara yang ‘Menyebalkan’

Image for post
Image for post
Foto via parool.nl

Mungkin salah satu kejutan terbesar di Kompetisi Antarklub Eropa tahun ini adalah keberhasilan Getafe menyingkirkan Ajax di babak 32 Besar Liga Europa. Klub asal kota Madrid tersebut berhasil menekuk semifinalis Liga Champions musim lalu tersebut dengan agregat 3–2, hasil dari kemenangan 2–0 di kandang dan kekalahan tipis 1–2 saat melawat ke Amsterdam.

Ketika pertandingan berlangsung, posisi Getafe memang sedang berada di peringkat tiga klasemen La Liga. Akan tetapi dengan perbandingan materi pemain dan status yang ada, jelas kalau Ajax banyak diunggulkan dibandingkan lawannya.

Line-up

Getafe dalam dua pertandingan kandang-tandang menurunkan formasi dan personil yang sama. Jose ‘Pepe’ Bordalas memakai pakem 1-4–4–2 andalannya dalam menghadapi Ajax. David Soria di bawah mistar, kuartet Damian Suarez, Djene Nekonam, Xabi Etxeita, dan Mathias Oliviera di lini belakang, Alain Nyom dan Marc Cucurella mengapit Mauro Arambarri dan Nemanja Maksimovic di lini tengah. Di lini depan, Jaime Mata dan Deyverson berduet sebagai No. 9.

Dari sisi Ajax, Erik Ten Hag menurunkan formasi 1-4–3–3 yang dapat bertransformasi menjadi 1-4–2–3–1. Dalam kedua pertandingan tersebut Ten Hag harus melakukan banyak perubahan komposisi pemain yang diakibatkan oleh berbagai faktor, mulai dari ketersediaan pemain akibat skorsing dan cedera hingga persoalan taktikal.

Ketersediaan pemain tersebut dalam beberapa hal memberikan konsekuensi yang besar bagi aspek teknis. Salah satunya adalah absennya kiper utama Andre Onana pada leg pertama akibat skorsing dan digantikan oleh Bruno Varela. Onana merupakan pemain penting bagi Ajax. Menit bermainnya terbanyak kedua di tim setelah Dusan Tadic. Onana juga tidak pernah absen di semua laga Ajax di Liga Champions sebelum ‘terdegradasi’ ke Liga Eropa.

Banyaknya menit bermain yang didapat merefleksikan pentingnya Onana bagi Ajax. Salah satu yang terlihat dari laga melawan Getafe adalah sulitnya Ajax membangun serangan dari bawah. Meski pressing ketat Getafe memang sulit dilalui, tapi kemampuan operan dan distribusi bola yang dimiliki Varela tidak sebagus Onana, sehingga Ajax sulit melakukan build-up serangan dan mudah kehilangan penguasaan bola.

Pressing Ketat Getafe

Getafe di bawah asuhan Bordalas dikenal agresif dalam melakukan tekanan, termasuk melakukan hal-hal ‘kotor’ seperti provokasi dan pelanggaran terhadap lawan. Getafe merupakan tim yang paling banyak membuat pelanggaran di lima liga top Eropa dengan total 706 pelanggaran. Jumlah tersebut bahkan unggul jauh atas peringkat kedua, Alaves, yang 621 kali membuat pelanggaran.

Di luar fakta tersebut, salah satu kunci utama Getafe menyingkirkan Ajax adalah pressing yang ketat. Getafe banyak melakukan pressing blok tinggi dengan 4-4-2. Tujuan utamanya adalah mengontrol ruang di area tengah dan memaksa lawan bermain melebar atau segera membuang bola jauh ke lini depan.

Untuk mengontrol ruang di area tengah, Getafe melakukan penyesuaian dalam melakukan pressing agar blok tekanan dapat mempertahankan akses pressing ke opsi-opsi umpan yang dimiliki Ajax. Di pertandingan leg pertama, Getafe berhasil mematikan serangan ajax sejak build-up di area bawah melalui penyesuaian dan staggering yang baik dalam pressing di lini kedua

Bermain dengan dua No. 9, keduanya menjadi lini pertama Getafe dalam melakukan pressing. Mata dan Deyverson berorientasi kepada kedua bek tengah lawan sekaligus menutup akses vertikal ke lini tengah. Apabila Ajax memilih untuk melakukan progresi via bek sayap, keduanya turut menyesuaikan dengan menutup jalur operan ke tengah dan membentuk pressing trap di area flank.

Di lini kedua, orientasi gelandang Getafe juga sama, yaitu menutup akses lewat area tengah. Salah satu gelandang sentral (biasanya Maksimovic) akan melakukan penjagaan man-to-man terhadap No. 6 Ajax. Sementara kedua pemain sayap, Nyom dan Cucurella, bermain lebih ke dalam untuk mempertahankan kerapatan (compactness) sekaligus menutup akses progresi lewat area tengah dan halfspace. eduanya juga mempertahankan akses pressing terhadap salah satu No. 8 Ajax yang turun ke bawah. Satu gelandang lainnya (Arrambari) tetap berada di depan backline Getafe untuk melakukan penjagaan terhadap No. 8 Ajax yang lain. Blok pressing tersebut membuat Getafe seolah bermain dengan formasi berlian di lini tengah.

Mekanisme pressing Getafe dan akses pressing dari masing-masing pemain

Mekanisme pressing tersebut membuat Ajax kesulitan untuk membangun serangan lewat progresi yang bersih. Ditambah dengan kemampuan Varela yang tidak sebagus Onana dalam membangun serangan membuat Ajax tidak memiliki ‘personil tambahan’ ketika membangun serangan di area bawah. Ajax kemudian banyak memainkan bola-bola panjang yang relatif mudah diantisipasi pemain belakang Getafe.

Image for post
Image for post
Pressing Getafe memaksa Ajax memainkan bola-bola panjang

Hasilnya, dalam laga yang berlangsung di Coliseum Alfonso Perez tersebut berhasil dimenangkan tuan rumah dengan skor meyakinkan, 2–0. Tidak hanya itu Getafe sukses membuat Ajax hanya melepaskan dua tembakan tanpa ada yang tepat sasaran. Bahkan, berdasarkan statistik FBRef, nilai xG Ajax di laga tersebut hanya sebesar 0,1! Artinya, Ajax benar-benar ‘mati kutu’ dalam laga tersebut. Meski menguasai 63% penguasaan bola, Ajax gagal memberikan ancaman yang berarti.

Di pertemuan kedua Ajax tampil lebih baik dalam hal serangan. Perbaikan tersebut tidak terlepas dari perubahan struktur serangan Daley Blind dkk. Di bawah, kembalinya Onana ke dalam starting XI membuat Ajax bisa melibatkan pemain tambahan di fase pertama build-up. Onana bersama kedua bek tengah membuat situasi 3v2 melawan lini pertama pressing Getafe.

Di area luar, kedua bek sayap Ajax bermain cukup tinggi. Hal tersebut memaksa winger Getafe untuk turun sejajar dengan lini pertahanan mereka, membentuk blok 6–2–2. Berkurangnya pemain di lini tengah membuat Getafe kehilangan sebagian akses pressing mereka ke build-up serangan Ajax, yang leluasa melakukan progresi via bek tengah dan gelandang karena unggul jumlah di bawah. Penyerang Ajax juga banyak melakukan rotasi untuk memanipulasi penjagaan lawan sekaligus menciptakan akses progresi bagi gelandang.

Image for post
Image for post
Perubahan struktur serangan Ajax di leg kedua memaksa Getafe melakukan penyesuaian

Mekanisme tersebut berperan dalam gol pertama mereka di leg kedua yang dicetak oleh Danilo Pereira. Rotasi dan perpindahan bola yang dinamis antara Carel Eiting dengan Blind mampu menciptakan celah dalam pressing lini pertama Getafe. Hal tersebut membuat Ajax mampu menciptakan akses ke ruang antarlini, yang kemudian dieksploitasi oleh kombinasi Dusan Tadic-Eiting-Donny Van De Beek.

Image for post
Image for post
Skema Ajax dalam gol pertama mereka di leg kedua

Meski demikian Getafe tetap dapat mempertahankan keunggulan yang sudah mereka raih di Leg pertama. Perbaikan struktur membuat Ajax tampil lebih baik secara posisional di Leg 2, tetapi belum terlalu signifikan dalam output penyelesaian akhir. Di Leg 2 Ajax hanya mencatatkan 2 tembakan tepat sasaran dari total 8 tembakan dengan nilai xG 1,5. Angka tersebut tidak berbeda jauh dengan Getafe, yang menciptakan 1 tembakan tepat sasaran (yang menjadi gol) dari 9 tembakan dengan nilai xG 1,3.

Bola mati

Selain pressing ketat, situasi bola mati juga menjadi salah satu kunci Getafe dalam menciptakan peluang. Sebanyak 2 dari 3 gol yang diciptakan Getafe ke gawang Ajax diciptakan dari situasi bola mati.

Di leg pertama, situasi tendangan bebas membuka keunggulan Getafe. Lewat mekanisme yang ciamik mereka dapat memanipulasi garis pertahanan Ajax yang tinggi dengan mengeksploitasi sisi underload dan merusak jebakan offside.

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Mekanisme tendangan bebas Getafe

Bola mati kembali menjadi andalan Getafe. Kali ini lewat situasi lemparan ke dalam. Mata berhasil membuka skor di Johann Cruyff Arena pada leg kedua ketika laga baru berjalan lima menit. Kali ini Getafe memanfaatkan ruang yang teripta di garis pertahanan akibat zonal marking Ajax yang buruk.

Image for post
Image for post

Kesamaan dari dua eksekusi di atas adalah sama-sama dilakukan dengan gerakan yang cepat dan tidak banyak sentuhan. Artinya hal ini merupakan mekanisme yang sudah dipelajari dan dilatih pada sesi latihan.

Prospek di Liga Eropa

Di babak 16 besar Getafe akan bertemu tim kuat lainnya, Internazionale. Melihat kondisi lawan yang sedang berada dalam performa yang baik, tingkat kesulitan yang akan mereka hadapi akan semakin tinggi.

Menarik melihat bagaimana Getafe nantinya akan melakukan pressing terhadap Inter, yang sama seperti Ajax, banyak melakukan build-up serangan dari bawah. Apalagi Inter belakangan banyak melakukan rotasi yang dinamis antara bek dan gelandang dalam proses build-up tersebut. Dari segi formasi (1–3–5–2 vs 1–4–4–2), Getafe mengalami kemungkinan kalah jumlah di lini depan dan tengah. Untuk itu nampaknya kedua winger akan melakukan penyesuaian untuk tidak terlalu banyak melakukan tekanan langsung kepada wingback lawan.

Selain itu, Getafe juga harus mewaspadai pergerakan penyerang dan bek sayap Inter yang gemar melakukan run-in-behind. Apabila pressing yang mereka lakukan tidak cermat, maka lini belakang akan rentan terekspos oleh kualitas serangan Inter. Mereka juga harus mewaspadai penyerang utama Inter, Romelu Lukaku yang cermat dalam melakukan hold-up play dan membuka ruang bagi rekan-rekannya yang akan melakukan run-in-behind.

Enjoying football as it's meant to be

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store